Oleh : Sjachrul Firdaus – Direktur Eksekutif ASTINDO

Selama ini kita menganggap kesuksesan berusaha adalah apabila asset perusahaan yang dimiliki  menjadi lebih besar dan memiliki sendiri semua asset dan komponen produksinya. Teori kapitalisme juga telah membentuk para pengusaha untuk menumpuk modalnya sebagai asset strategis dan menguasai sendiri kekayaannya demi untuk mengangkat kredibilitas dan status sosial serta menguasai pangsa pasar lebih besar. Padahal kecenderungan management besar menjadi biaya operasional membesar dan berdampak terhadap biaya produksi menjadi tinggi dan mengakibatkan harga jual produk menjadi tinggi.   

Untuk mendirikan Travel agent sebagai perusahaan jasa secara legal (konvensional), diwajibkan menyetorkan modal kerja 500 juta. Untuk menyiapkan perangkat ; peralatan ; fasiltas kantor dan mengurus legalitas dan keagenan saja sudah memakan biaya hingga 50 % nya, selebihnya menjadi modal kerja dan untuk menjamin fixed cost untuk minimal 1 (satu) tahun sebagai jaminan kelangsungan jalannya perusahaan tersebut. Sehingga dana modal kerja yang dialokasikan cenderung hanya untuk biaya pendirian perusahaan saja. Tidak jarang para pengusahanya hanya karena tergiur oleh dinamika fasiltas travel bisnis, yang berpotensi dapat menghabiskan simpanan dananya.

Di era digital atau di era online ini, travel agent konvensional dengan konsep work in services semakin sulit mempertahankan pelanggan untuk datang kekantornya lagi, karena banyaknya pesaing travel online penerap konsep sharing economy yang memburu market place menawarkan harga tiket yang lebih murah dengan kemudahan cara memesannya, dengan iklan yang muncul disetiap kesempatan, serta tidak tergantung pada aturan main bisnis komoditasnya. Para pengamat mengatakannya bahwa mereka dituduh menerapkan strategi banting harga atau harga predator, sehingga pesaing conventional menghendaki agar para travel online ini harus dihambat dan dipermasalahkan, karena izin dan pembayaran pajaknya tidak jelas, karena belum ada ketentuan yang mengaturnya. Travel agent konvensional sangat terpukul karena income-nya hanya mengandalkan besarnya penjualan produknya saja. Keadaan yang sangat dilematis ini memang harus dihadapi, dan harus dicari solusinya, agar para pengusaha travel agent konvensional tetap dapat eksis berusaha dan masih bisa menikmati keuntungan dari usahanya.

Sharing economy adalah suatu konsep usaha yang mengandalkan kepada tindakan berbagi tanggung jawab dan biaya, menurut bagiannya masing-masing. Pengusaha tidak perlu memiliki semua fixed asset, properties, management, sumber daya manusia dan modal yang besar untuk menjalankan bisnisnya. Hal ini telah dicontohkan dalam konsep Koperasi dan Gotong Royong oleh nenek moyang kita. Pada zaman dahulu, untuk membangun rumah bagi keluarga baru, para tetangga akan datang berbondong-bondong dengan membawa barang dan tenaga serta keahlian yang bisa disumbangkan untuk pembangunan rumah tetangganya itu. Sehingga sikeluarga baru tersebut, tidak perlu mengeluarkan biaya 100 % untuk pendirian rumahnya, namun cukup menyampaikan ide dan bahan baku yang dimilikinya. Yang pasti biaya pembangunan rumahnya menjadi sangat murah.

Begitu pula dengan bisnis travel agent, sang pengusaha tidak perlu memiliki gedung sendiri, dengan fasilitas kantor yang mengkonsumsi listrik tinggi; management yang besar dengan karyawan yang menangani berbagai tahapan pekerjaan;  keagenan airlines sendiri yang memakan biaya pengorbanan  dan maintenance, atau memiliki produk tour sendiri yang semuanya itu menjadi high cost. Travel agent dapat memanfaatkan fasilitas partnership atau pihak ketiga dengan biaya yang relative sangat rendah termasuk untuk menggunakan, searching engine; back office system, sales support dsb. Dengan  bermodal ide dan kepercayaan tinggi dari partner yang qualified, serta talenta menjalankan bisnis pada  industry travel, insya Allah dapat melanjutkan bisnisnya dengan memfasilitasi market place yang sudah dimiliki dengan menggunakan suatu aplikasi yang baru. 

Memang sulit untuk hijrah atau berubah dari suatu kebiasaan maupun paradigma bisnis yang selama ini sudah nyaman dan dijadikan andalan, apalagi merasa sudah berinvestasi yang cukup besar dan menanggung fixed cost yang tidak sedikit pula, serta memiliki karyawan yang merupakan bagian dari management yang sudah seperti keluarga. Suka tidak suka, keadaannya sudah berubah, masyarakat sebagai market place yang mengandalkan pencarian informasi melalui fasilitas internet, adalah penentu kelangsungan berkembang suatu perusahaan dimasa datang, karena bagi perusahaan yang mengecewakan customer, namanya akan beredar beritanya didunia maya, dan akan ditinggalkan oleh semua follower-nya. Sudah siapkan untuk berubah ?

SF.04-2016