Oleh : Pauline Suharno - Astindo / Oct-2012

Pengusaha travel rentan penyakit jantung ! Bagaimana tidak, di saat hari H pembayaran BSP IATA, uang yang terkumpul bisa jadi belum cukup untuk disetorkan ke Citibank / Mandiri. Padahal sekali saja short payment, IATA tidak akan kenal ampun.

Salah satu CEO travel agent   yang banyak menangani korporasi pernah membuat statement, jantungnya berdebar kencang setiap H-1 accounting memberikan laporan cashflow perusahaan yang kembang kempis, padahal agent tersebut tergolong memiliki aset luar biasa besar, sayangnya aset mereka berupa hutang ke berbagai perusahaan korporasi yang mereka tangani.

Ketika industri travel agent   mengalami masa kejayaan di sebelum era e-tiket, travel agent   merupakan perantara yang potensial antara konsumen dan maskapai penerbangan. Travel agent   mendapatkan keuntungan berupa komisi yang cukup besar serta insentif penjualan. Konsumen pun terasa lebih mudah membeli tiket melalui travel agent   yang dianggap sebagai one stop shopping. Peran travel agent   akhirnya berubah menjadi financial institution. Agent ditekan untuk memberikan tenggat kredit mulai dari 2 minggu hingga 90 hari, dengan service fee yang berbeda besarannya.

Kemajuan teknologi informasi berupa pemberlakuan e-ticket bagaikan koin mata uang. Di satu sisi sangat memudahkan bagi travel agent   dan konsumen, di manapun konsumen berada, e-ticket bisa diakses via gadget. Namun di sisi lain, konsumen juga dapat melakukan pemesanan dan pembelian e-ticket ke website berbagai maskapai penerbangan.

Saluran distribusi penjualan tiket melalui internet yang praktis dan efisien membuat maskapai penerbangan berlomba-lomba mempromosikan penjualan tiket mereka melalui internet. Penjualan langsung kepada konsumen memangkas komisi travel agent   sehingga maskapai penerbangan dapat menjual tiket dengan harga lebih murah daripada via travel agent  .  

Memang saat ini belum seluruh masyarakat Indonesia mengenal internet, mereka yang paham dan mau menggunakan internet pun tidak seluruhnya merasa nyaman bertransaksi dalam dunia maya. Tapi seiring dengan maraknya promosi maskapai penerbangan termasuk kemudahan cicilan dan potongan harga dari penerbit kartu kredit, dampaknya cukup terasa terhadap penjualan tiket melalui travel agent  . Omset pelaku usaha travel agent   menurun dan tak jarang ada pula yang gulung tikar.

Era perdagangan bebas juga mau tidak mau memaksa pengusaha lokal untuk bersaing dengan investor asing khususnya travel agent   dari negara tetangga. Travel agent   lokal harus mulai membenahi diri terutama dalam meningkatkan kompetensi sumber daya manusia agar mampu bersaing dengan mereka.

Di negeri kita tercinta ini memang agak sulit mengharapkan keterlibatan pemerintah pusat maupun daerah melalui kebijakan-kebijakan yang dapat mendukung keberlangsungan usaha travel agent  , padahal  tak dapat dipungkiri bahwa travel agent   juga ikut berperan dalam mempromosikan potensi wisata suatu daerah.

Kata agent A : “Tidak bisa kasih kredit 3 bulan.”
Kata agent B : “Bisa.”

Kata agent A : ”Sub agent mark up profit 1 %.”
Kata agent B : ”Mark up USD 3-5 saja.”

Kata agent A : ”Untuk walk in client margin profit 5%.”
Kata agent B : ”2% cukup.”

Kata agent A : ”Enak dulu ada Plan Save 5 & Secure 3.”
Kata agent B : ”Harga jual tiket kemahalan, nombokin 5% kebanyakan.”

Di tengah berbagai ancaman kelangsungan usaha travel biro, bagaimana seharusnya para pelaku bisnis travel agent bertindak? Butuh dukungan dari semua stakeholder dalam tata niaga kelola bisnis pariwisata. Kekompakan dan kesatuan para pelaku usaha amat diperlukan agar kita memiliki satu suara bulat. Tanpa dukungan dari anggota, asosiasi travel agent   seperti ASITA, ASTINDO, AMPHURI, dsb tidak akan mampu melakukan mediasi terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah atau maskapai penerbangan yang hampir selalu merugikan travel agent   secara sepihak. ***