ASTINDO bersama dengan PHRI (Persatuan Hotel & Restoran Indonesia), APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) dan APRINDO ( Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) adalah merupakan undangan penting bagi Bank Indonesia dalam menetapkan kebijakan penggunaan mata uang Rupiah disetiap transaksi di Indonesia. Keempat asosiasi penting tersebut masing-masing mengutus para Ketua Umumnya termasuk ASTINDO yang menghadirkan Ketua Umum – Elly Hutabarat yang didampingi oleh Wakil Ketua Umum – Rudiana, untuk dimintai tanggapannya atas rencana kebijakan tersebut.

Pada rapat pleno ASTINDO ke 17 tanggal 15 July 2014, Rudiana melaporkan hasil rapatnya dengan Bank Indonesia bahwa, bermula dari instruksi Menteri Koordinator Perekonomian - Chaerul Tanjung , setelah menelaah transaksi di Pelabuhan laut yang diterapkan oleh Pelindo, akhirnya kebijakan untuk menggunakan mata uang Rupiah disetiap transaksi di Indonesia harus diterapkan, selain kebijakan tersebut juga mengacu kepada UU no 21 th 2007. Bagi ASTINDO kebijakan ini bukan hal yang baru diketahui, karena sejak tahun 2011 ASTINDO sudah inten menulis surat kepada Menteri Keuangan Republik Indonesia, mengenai pengajuan penggunaan mata uang Rupiah pada Ticket International.

Mata uang suatu Negara , mempunyai kedudukan yang sama dengan Lagu Kebangsaan, Bendera Negara, dan Tanah Air yang merupakan martabat  bangsa. Oleh karena itu memang sudah waktunya Rupiah menjadi tuan rumah di negaranya sendiri, yang selama ini masih dibayang-bayangi oleh US Dollar sebagai penentu harga Ticket International di Indonesia. Tentunya untuk menerapkan nilai Rupiah pada tariff penerbangan internasional ini, tidak semudah membalikan tangan. Mengingat kebijakan ini akan melibatkan seluruh international airlines yang ticketnya diterbitkan di Indonesia dan International Air Transport Association (IATA) sebagai lembaga international.

ASTINDO tidak bisa berperan sendiri begitu saja dalam penetapan ini, karena tergantung kepada airlines sebagai principle-nya. untuk itu ASTINDO akan menggandeng Garuda Indonesia sebagai National Carrier yang menjadi tuan rumah di Indonesia dan pelopor pengguna kebijakan tersebut. Walaupun secara terpisah, pembahasan mengenai kebijakan penggunaan mata uang Rupiah ini pernah diangkat oleh ASTINDO kedalam forum Agency Program Join Council (APJC), yang merupakan bagian dari IATA. Pada prinsipnya IATA dapat menerima pengajuan tersebut, namun masih ada kendala mengenai jumlah kolom yang cukup banyak diperlukan untuk menuliskan nominal Rupiah pada ticket International.

Selanjutnya Bank Indonesia akan menayangkan iklan layanan masyarakat mengenai kebijakan penggunaan Rupiah pada seluruh transaksi di Indonesia, dan juga bersama POLRI, Bank Indonesia  akan menandatangani MOU dengan ASTINDO, guna penerapan dan pengawasan atas pelaksanaan kebijakan tersebut. “Mari kita gunakan Rupiah, dan jadikan Rupiah sebagai tuan rumah dinegeri sendiri” sahut Rudiana mengakhiri laporannya.   

 

SF 03-07/2014