Escrow account sudah dimuat dalam KM 25 Kementerian Perhubungan, yang mengatur penggunaan rekening bersama antara maskapai dengan appointed travel agent-nya.     

Beberapa waktu yang lalu Dewan Pengurus Nasional (DPN) ASTINDO yang diwakili oleh Ketua Umum – Elly Hutabarat, Wakil Ketua Umum – Rudiana, dan Wakil Sekretaris Jenderal – Pauline Suharno berkunjung ke Direktur Angkutan Udara, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, bapak Djoko Murjatmodjo, untuk berkonsultasi mengenai aturan main pada bisnis ticketing.

Pada kesempatan pertemuan tersebut, pak Djoko menyampaikan beberapa informasi, diantaranya   mengenai peningkatan penerbangan Domestik di tahun 2013 yang lebih rendah dibanding peningkatan pada tahun 2012, namun di tahun 2014 untuk periode Jan- May kembali meningkat hingga 18 % lagi. Selain itu  Ditjen Perhubungan Udara juga membuka slot time sebanyak-banyaknya, khususnya untuk mengantisipasi banyaknya permintaan Charter flight dari China ke Bali, akibat pengalihan tujuan dari Malaysia dan Thailand.

Mengenai penerapan Passenger Service Charge (PSC) atau Airport Tax yang akan dimasukan kedalam ticket international, masih menghadapi kendala. Billing Settlement Plan (BSP) mengenakan komisi atas PSC dan baru akan membayar kepada pihak Angkasapura dalam kurun waktu 1 (satu) bulan. Untuk itu Angkasapura akan bekerja sama dengan Bank pemerintah dan pihak Asuransi, untuk meng-antisipasi terjadinya selisih atau kekurangan bayar yang sering menjadi permasalahan.   

Menanggapi keluhan travel agent yang masih harus menyetorkan deposit kepada maskapai dalam negeri, sebagai pembayaran dimuka atas tiket-tiket yang akan diterbitkan, dan juga tanpa ada jaminan dari pihak maskapai, pak Djoko merasa prihatin atas aturan main seperti ini. Mengingat bahwa penjualan tiket-tiket maskapai dalam negeri ini, lebih dari 70 % dilakukan oleh para travel agent. Beliau sangat menyayangkan ketidak kompakan travel agent yang berdampak mendiskreditkan posisi tawar travel agent sehingga tidak dapat menerapkan aturan main yang tidak merugikan travel agent.

Mengenai kerugian yang diderita oleh para travel agent akibat stop beroperasinya beberapa maskapai dalam negeri. Ditjen Perhubungan Udara sudah meng-antisipasi melalui KM 25, yaitu dengan penerapan escrow account, yang dapat mengurangi beban travel agent. Akan tetapi aplikasinya masih belum dijalankan juga, karena travel agent masih bersedia menyetorkan depositnya ke rekening maskapai. Resikonya ketika sang maskapai stop operasi, deposit travel agent dikuasai oleh maskapai.   Oleh karena itu, proteksi yang terbaik saat ini adalah masih dengan asuransi.  

Pada akhir pertemuaanya Direktur Angkutan Udara menyampaikan, apabila masih ada maskapai yang mempersyaratkan keagenan tiketnya dengan hanya menyebutkan asosiasi lain selain ASTINDO, agar segera dilaporan. Ditjen Perhubungan Udara akan menegur maskapai yang bersangkutan, karena asosiasi untuk travel agent yang relevan dengan maskapai penerbangan adalah asosiasi yang sama-sama bernaung di bawah  Ditjen Perhubungan Udara yaitu ASTINDO. Selain itu, pembinaan ASTINDO di daerah, dapat berhubungan dengan Dinas Perhubungan setempat, yang akan membantu pengembangannya dengan menggunakan anggaran Dishub yang sifatnya untuk membina industry

 

Sf 02/08-2014