Begitu banyak permasalahan yang dihadapi oleh para Travel Agent di Indonesia, dalam menjalani bisnisnya, dan itu tidak mudah untuk mendapatkan solusinya kalau dilakukan secara sendiri-sendiri oleh masing-masing Travel Agent. ASTINDO selalu memberikan fasilitas bagi para Travel Agent yang mau bersama-sama mencari jalan keluar terhadap permasalahan yang dihadapi itu, kata ibu Elly Hutabarat – Ketua Umum ASTINDO, ketika menyampaikan press conference nya. Pada sambutan pembukaan RAKERNAS ASTINDO 2015 di hotel Harris Surabaya pada tanggal 09 Oktober 2015, Elly menyampaikan berbagai permasalahan yang sedang dihadapi oleh para travel Agent.

 

  • Dengan adanya borderless, para pelanggan dapat membeli ticket, paket tour dari mana saja, dengan harga yang cukup kompetitif.
  • Bermunculannya Online Travel Agent (OTA) besar yang didanai oleh pemodal besar yang melibatkan pihak asing, menjadi ancaman tersendiri bagi travel Agent konfensional, bahkan bagi Travel Agent besar sekalipun. Dengan kekuatan finansialnya, mereka bukan saja berani rugi terlebih dahulu, dengan membiayai promosi besar-besaran, namun juga membanting harga dibawah yang ditentukan prinsipalnya, hingga tak mungkin untuk ditandingi lagi. Sayangnya belum ada yang berwenang untuk mengambil tindakan pengrusakan pasar ini.
  • Penggunaan Rupiah pada penjualan tiket dan tour internasional, systemnya masih membebani risiko bagi travel agent, sementara nilai Rupiah cenderung turun terus, yang berdampak menimbulkan kesan harga menjadi mahal. 
  • Perlakuan beberapa maskapai yang memotong saluran distribusi travel agent dengan mengadakan penjualan langsung kepada corporate dan konsumen dengan memberikan kondisi yang lebih baik dari para travel agent, membuat travel agent semakin terpojokan.
  • Sekalipun Travel Agent bukan lembaga keuangan, namun terpaksa memberikan kredit kepada para Corporate atau institusi yang menerapkan system pembayaran dengan proses invoice atau pembayaran berjadwal. Tentunya selain mengganggu cash flow Travel Agent, juga mengandung risiko yang sangat tinggi, karena tidak ditunjang dengan jaminan apapun.
  • Mekanisme bisnis dengan maskapai domestic yang masih memberi beban risiko keuangan bagi travel agent, karena uang yang tersimpan (top up) sebagai jaminan penerbitan tiket pada maskapai, tidak dijamin oleh maskapai yang bersangkutan ataupun oleh pemerintah. Sehingga ketika maskapai stop beroperasi ataupun bangkrut, dana tersebut tidak akan kembali.
  • Dengan dimulainya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), penerapan Free flow of skilled labor menjadi salah satu ancaman tersendiri bagi tenaga kerja Indonesia pada industry Travel Agent, karena masih banyak SDM yang belum kompeten dibidangnya.
  • Kesadaran masyarakat yang masih rendah tentang penerapan pajak, menjadi beban tersendiri bagi travel agent, karena kewajiban membayar PPN oleh pelanggan, terpaksa dibayar oleh Travel Agent nya, sehingga pembayaran pajak berlapis memotong profit travel agent yang sangat marginal.

Tentunya permasalahan diatas terus dikikis oleh ASTINDO melalui program kerjanya, dan yang terakhir ASTINDO  berhasil mengumpulkan para Travel Agent besar di Indonesia untuk duduk bersama-sama mencari jalan keluar terhadap permasalahan tersebut, dengan membentuk Corporate Travel Forum, sahut Elly Hutabarat. 

SF 010/xi-2015