Oleh : Sjachrul Firdaus - Direktur Eksekutif ASTINDO 

ASTINDO adalah asosiasi binaan Kementerian Perhubungan cq Ditjen Perhubungan Udara. Namun belakangan ini ASTINDO sering sekali dilibatkan dalam program kerjanya Kementerian Pariwisata. Sebagai asosiasi yang beranggotakan Travel Agent, tentunya ASTINDO merasa bertanggung jawab atas perkembangan dan dinamika bisnis anggotanya, salah satunya adalah Pariwisata Indonesia. Sehingga pada pelaksanaan ASTINDO Fair yang lalu, memberi kesempatan kepada beberapa Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) yang ingin ikut pada pameran tersebut.

Wakil Menteri Pariwisata turut meresmikan pembukaan ASTINDO Fair, dan ternyata Kementerian Pariwisata terus memantau serta memperhatikan program-program kerja ASTINDO, hingga pada hari Selasa tanggal 22 Desember 2015, Menteri Pariwisata RI, bapak Ir Arief Yahya Msc, meminta Ketua Umum dan pengurus ASTINDO untuk beraudiensi dengan beliau.  

Cukup mengejutkan, audiensi ASTINDO dengan Menteri Pariwisata sangat produktif, yang telah membuat pak Menteri ini mengalokasikan waktunya hingga 2 (dua) jam untuk berdiskusi dengan Ketua Umum ASTINDO , ibu Elly Hutabarat yang didampingi oleh bapak Rudiana – Wakil Ketua Umum dan sdri  Pauline Suharno – Wakil Sekjen. Sekalipun ASTINDO yang selama ini dikenal sebagai asosiasi yang membidangi Ticketing dan Tour Outbound ini, Menteri Pariwisata mengetahui bahwa ASTINDO juga sangat peduli terhadap Pariwisata Indonesia, oleh karena itu beliau meminta agar ASTINDO mau membantu mempromosikan Pariwisata Indonesia disetiap program kerjanya.  

Selain itu Kemeterian Pariwisata juga akan mensponsori, dengan mengundang para Buyer dari luar negeri untuk mengunjungi ASTINDO Fair 2016 nanti pada tanggal 25 – 27 Maret 2016 di Jakarta Convention Center (JCC), agar dapat berinteraksi dengan para pelaku industry pariwisata Indonesia, khususnya para Travel Agent Indonesia yang membuka booth-nya pada ASTINDO Fair tersebut.

Pada kesempatan audiensi tersebut, ibu Elly juga menyampaikan mengenai kepanjangan nama ASTINDO yang sudah tidak sesuai lagi dengan  ruang lingkup dan tanggung jawab serta program kerja ASTINDO, apalagi dengan tugas baru dari kemenpar ini. Menteri Arief Yahya langsung merespons, bahwa seiring dengan meningkatknya aktivitas ASTINDO dan usaha anggotanya, sesuai dengan nomen klatur yang tertera pada Undang-undang Pariwisata, beliau menyarankan bahwa kepanjangan ASTINDO dalam bahasa Indonesia menjadi Asosiasi Usaha Jasa Perjalanan Wisata Indonesia, yang dalam bahasa Inggrisnya dapat menggunakan Association Travel Agent Indonesia.

Hal lain yang juga didiskusikan oleh Menteri Pariwisata kepada ASTINDO, yaitu mengenai Wisata Kapal Pesiar, yang selama ini pelabuhan-pelabuhan di Indonesia tidak diperkenankan untuk melakukan embarkasi bagi WNI maupun WNA, kecuali penumpang kapal tersebut. Saat ini peraturannya sudah dirubah, dimana embarkasi dan disembarkasi sudah dapat dilakukan di 5 (lima) pelabuhan Indonesia, yaitu : Belawan - Medan, Tanjung Priok - Jakarta, Tanjung Perak - Surabaya, Benoa - Bali, dan Makasar.  Menteri langsung menggagas pertemuan lanjutan secepatnya untuk membuat Rencana Aksi atau action plan terhadap wisata kapal pesiar di wilayah Indonesia, dan potensi pembuatan kapal cruise di Indonesia, seperti yang pernah dimiliki dahulu oleh Awani Dream. Program ini sekaligus menjadi potensi mempertemukan antara investor dan pelaku usaha pariwisata.

 

SF 12-xii/2015