Travel Agent IATA yang menggunakan program penjaminan berupa Default Insurance Program (DIP), pada bulan Desember 2015 ini dikagetkan dengan  tambahan persyaratan  yang dikeluarkan oleh United Insurance Services (UIS), broker yang menjembatani kerjasama ACA Insurance, IATA, dan Travel Agent, yaitu berupa tambahan jaminan Performance Bond senilai Rp 2 Milyar, dikeluarkan oleh Asuransi Mega Pratama. Premi yang harus ditanggung oleh Travel Agent senilai 5 % nya yaitu Rp 100 juta. Yang lebih menyesakan nafas, performance bond harus sudah diserahkan  paling lambat 31 Desember 2015, sedangkan surat pemberitahuannya baru diterima oleh sebagian kecil Travel Agent mulai tanggal 11  December 2015.

UIS mengakui hingga pertengahan December 2015, baru sekitar 200 Travl Agent IATA yang sudah menerima informasi tersebut, dari sekitar 700 travel agent pengguna fasilitas DIP. Menghadapi situasi yang tidak  fair bagi travel agent dan terkesan  diputuskan sepihak oleh UIS, ASTINDO mengundang IATA dan UIS untuk menyampaikan keluhan para anggotanya yang sangat keberatan dengan persyaratan tersebut. Dalam pertemuan dengan ASTINDO pada  hari Rabu - 15 Desember 2015, UIS menjelaskan bahwa adanya tunggakan dari travel agent dalam jumlah yang sangat besar, telah mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit bagi ACA Insurance, sebagai  pihak yang harus menanggung klaim dari IATA. Total claim di tahun 2014-2015 melonjak tajam, sehingga perusahaan asuransi tidak sanggup lagi jika harus menanggung sendiri beban tersebut.

ASTINDO meminta pengunduran waktu dan penyesuaian nilai premi, agar tidak terlalu memberatkan para travel agent. Menanggapi permintaan ASTINDO, pada tanggal 18 Desember 2015, UIS secara resmi menulis surat kepada para Agent IATA,  mengundurkan waktu penyerahan kelengkapan persyaratan keikut sertaan jaminan keagenan yang menggunakan DIP, khususnya pembayaran preminya sebesar Rp 100 juta, hingga tanggal  31 Januari 2016 .

UIS, ASTINDO dan IATA masih berdiskusi mencari rumusan terbaik yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Sementara itu, jika ada travel agent yang ingin mempertimbangkan untuk menggunakan  Bank Guarantee ( BG ) yang notabene lebih murah biayanya, dapat menghubungi kantor IATA di Singapore melalui BSP Link, untuk menanyakan besaran BG yang dibutuhkan, dan mulai memproses  pada  bank-bank yang ditunjuk  oleh IATA. Pada tanggal 31 Januari 2016 nanti Agent sudah harus memutuskan apakah tetap akan menggunakan DIP atau pindah menggunakan BG. Demikian yang yang diungkapkan oleh Pauline Suharno – Wakil Sekjen ASTINDO.