Oleh : Sjachrul Firdaus - Direktur Eksekutif ASTINDO

Semua produk barang ataupun jasa, sekarang ini dapat dibeli melalui online dan dapat dilakukan dari sudut dunia manapun. Tentunya peluang bisnis online ini tidak disia-siakan oleh berbagai pengusaha khususnya para pemodal besar untuk memanfaatkan pangsa pasar yang bisa diraihnya, layaknya hukum kapitalis. Indonesia yang rakyatnya sangat konsumtif menjadi pasar empuk bagi para pelaku bisnis online, tidak heran kalau bisnis online dari luar negeri cukup dikenal di negeri kita, bahkan menjadi andalan.  Travel agent di Indonesia tidak saja membeli jasa atau produk untuk diluar negeri, bahkan untuk produk didalam negeri sekalipun, ada yang dibeli dari perusahaan online luar negeri.

Menteri Pariwisata Arif Yahya mengatakan bahwa nantinya tidak ada lagi Work in services, yang ada adalah hanya Market place. Bagaimana dengan nasib Travel Agent conventional yang ada sekarang ? ya harus segera menyesuaikan dengan kebutuhan pasarnya, dengan mengganti pelayanannya melalui Travel search engine. Informasi melalui digital hasilnya 4 x lebih efektif dari conventional. 74 % pencari informasi leisure dan 79 % pencari informasi business berasal dari internet.  Handphone bukan lagi sebagai alat komunikasi saja, namun sekarang ini sudah menjadi kebutuhan dasar bagi manusia.     

Yang perlu diperhatikan, bukan hanya persaingan antar perusahaan online nya saja, akan tetapi para pengusaha online tersebut tidak menjadikan komoditas atau produk bisnis usahanya sebagai produk yang akan menghasilkan keuntungan bagi perusahaanya. Menurut pengamatan, bahwa perusahaan online yang sukses berhasil menguasai pangsa pasarnya, mereka selalu merugi dari sisi bisnis komoditasnya, namun mereka mendapat keuntungan besar dari manfaat networknya atau dari komoditas pendukungnya atau dari menjual kembali perusahaanya.

Menjamurnya perusahaan online sebagai tanda perubahan dari ekonomi industry ke ekonomi digital. Keberhasilan perusahaan online yang telah menguasai pangsa pasar, dengan daya tarik menjual komoditasnya dibawah harga pasar bahkan dibawah harga nett-nya, tentunya bukan hanya menghancurkan usaha conventional, namun juga menghancurkan industry bisnis komoditasnya itu sendiri. Sepertinya Indonesia belum memiliki aturan yang memprotek mayoritas pengusaha local yang menghidupi rakyatnya sendiri. Dari sector pariwisata saja, begitu banyak perusahaan online yang berasal dari luar negeri, yang menjual produk wisata internasional maupun nasional, namun pajaknya ada yang tidak dibayar di Indonesia sebagai Negara yang memiliki pangsa pasarnya, belum lagi transaksi pembayarannya yang telah membawa devisa dari Indonesia ke negera asalnya.  Semoga saja segera ada jalan keluar bagi pengusaha local Travel Agent conventional untuk dapat beralih kepada digital bisnis, dan dapat kembali menikmati potensi pasar dinegaranya sendiri lagi.