Pada iklim usaha penjualan tiket penerbangan yang sedang kurang kondusif ini, terutama dihadapi oleh para Travel Agent konvensional. Tiba-tiba Garuda Indonesia yang notabene adalah Maskapai penerbangan BUMN ini, memangkas komisinya bagi Travel Agent. Tentunya para Travel Agent langsung bereaksi dan bergejolak menghadapi kebijakan Garuda yang dianggap sepihak dan akan menyingkirkan pangsa pasar Travel Agent.

Protes dilemparkan oleh beberapa kelompok sempalan-sempalan mengatas namakan asosiasi diberbagai daerah yang sudah secara resmi Garuda memberitakan tentang rencana pengurangan komisinya. Sangatlah masuk akal, apabila para Travel Agent yang protes ini sangat mengandalkan hidupnya dari komisi penjualan tiket Garuda yang selama ini menjadi pangsa pasar andalannya. Mereka harus rela pendapatannya berkurang, karena kebijakan baru dari Garuda Indonesia memotong besaran komisi yang sudah lebih dari 10 tahun tidak berubah.

Kondisi tersebut terutama dirasakan oleh Travel Agent diluar Jakarta yang pelanggannya mayoritas adalah Pemerintah Daerah, yang tidak kenal dengan istilah “Service fee”. Para Travel Agent di daerah ini menjual tiket dengan harga yang tertulis di tiket, dan hanya mendapat keuntungan dari komisi yang ditetapkan oleh maskapainya.   

Memang sangat ironis keadaannya bagi para Travel Agent penjual tiket penerbangan ini. Disatu sisi mereka harus berperang melawan competitor raksasa dengan modal asing yang sangat besar menggunakan system IT yang sangat canggih, sehingga dengan mudah dapat mengambil pelanggan-pelanggannya. Disisi lain para Travel Agent konvensional ini harus menelan pil pahit, karena komisi maskapai yang menjadi andalan hidupnya harus dikurangi.   

Pada era yang kurang kondusif ini, sangatlah lumrah setiap pihak mencoba mencari solusi untuk dapat mempertahankan eksistensi perusahaannya, termasuk juga Garuda Indonesia. ASTINDO sebagai asosiasi Travel Agent sangatlah berhati-hati dalam menyikapi kebijakan Garuda tersebut, mengingat dapat berdampak fatal bagi individu anggotanya, apabila mengambil langkah yang salah. ASTINDO sangat responsive namun persuasive dalam menghadapi Garuda.

Pada tanggal 26 January 2017 ketika Garuda Indonesia sedang merayakan hari ulang tahunnya, yaitu satu hari setelah ederan mengenai penurunan komisi diterima oleh anggota, Dewan Pengurus Pusat ASTINDO langsung menemui pihak Garuda untuk minta penjelasan mengapa kebijakan tersebut begitu mendadak akan diterapkan mulai 01 Februari 2017, dan sekaligus minta pengunduran waktu penerapan, yang oleh pihak Garuda disepakati untuk diundurkan menjadi mulai tanggal 01 Maret 2017.    

ASTINDO juga tidak dapat menerima pengurangan komisi begitu saja oleh pihak Garuda, namun upaya persuasive yang dilakukan adalah tetap berdialog melalui rapat-rapat hingga berkali-kali dengan pihak GARUDA, bahkan hingga pihak Garuda mengajak berbagai Bagian yang terlibat dalam penetapan kebijakan tersebut untuk menyampaikan hasil bahasannya di kantor ASTINDO. Hasil dialog-dialog yang meringankan dan dapat diterima oleh ASTINDO, telah diteruskan kepada anggotanya. Elly Hutabarat Ketua Umum ASTINDO meminta anggotanya untuk tetap berfikir jernih dan fokus pada bisnisnya, serta realistis menghadapai permasalahan ini yang juga terjadi diberbagai belahan dunia, agar menemukan win-win solution.