Di era yang serba digital, hampir semua transaksi bisnis dipermudah dengan melalui online, disamping sangat praktis dapat dikerjakan dari mana saja, pembayarannyapun tidak perlu dengan menggunakan uang tunai, bahkan harganyapun banyak yang lebih murah dari harga pasar. Pelanggan begitu dimanjakan dan dipermudah dengan kondisi seperti ini, sekalipun kita juga suka mendengar adanya pelanggan online yang merasa dirugikan karena barang pesanan yang diterima tidak sama persis dengan yang di iklankan, atau barang yang diterima sama sekali tidak sesuai dengan yang dipesan. Bagaimana dengan pemesanan melalui Online Travel Agent yang juga menawarkan kondisi yang menarik seperti perusahaan Online lainnya.  

Sekitar 10.000 orang diperkirakan telah menjadi korban kehancuran suatu Online Travel Agent yang berbasis di Queensland Australia.  Para pelanggannya marah menuduh kelompok konsolidator tiket pesawat ini "bertindak ilegal" dengan bekerja sama dengan maskapai penerbangan untuk membatalkan pemesanan pelanggannya dan mendapatkan kembali uang (Refund) nya secara penuh yang mereka belum kembalikan kepada pelanggannya.

Keterangan yang sama tertulis pada grup Facebook-nya yang memiliki 1.025 pengikut. Di halaman utama tertulis, “Maskapai penerbangan telah terlibat dalam pengembalian uang seharga tiket kepada perusahan On line Travel tersebut dan operator pihak ketiga yang terkaitnya, tanpa memberi tahu pelanggannya tentang tindakan mereka. Kejadian ini telah membuat pelanggan harus mengeluakan kembali uangnya hingga ribuan dolar dari kantongnya untuk kembali membeli tiket seperti yang sudah mereka pesan sebelumnya, dan bahkan dengan harga yang lebih tinggi.

“Maskapai-maskapai yang teridentifikasi saat itu adalah Emirates, Qatar, Aerolineas Argentinas, Air Asia, Jetstar, Garuda, Singapore Airlines, Korean Air, Qantas, Malaysian Airlines, Thai International, Air Canada, Etihad, China Southern, Cathay Pacific, China Airlines, dan Virgin Airlines.”

Seorang juru bicara salah satu Airlinesnya membenarkan bahwa mereka telah diberitahu oleh pihak Online Travel Agent yang bersangkutan bahwa mereka telah membatalkan tiket yang dikeluarkan pada dan setelah 29 Oktober 2018 untuk keberangkatan dari 1 Februari 2019 hingga 30 November 2019 yang dijual dengan harga dibawah harga pasar. Ternyata para Online Travel Agent raksasa pun saling berkompetisi dengan berbagai cara yang resiko dapat mengorbankan pelanggannya.

 

Dikutip dari Travel Weekly Asia / January 03, 2019