oleh Sjachrul Firdaus – Astindo / May-2012

Ketua Umum ASTINDO – Elly Hutabarat pada 9 Mei 2012 yang lalu menerima guru-guru SMK Pariwisata dari 17 ( tujuh belas)  provinsi di Pan Travel Jakarta. Kunjungan kerja para guru yang dikoordinir oleh Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik Tenaga Kependidikan (PPPPTK) – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini, merupakan acara puncak DIKLAT TIKET PENERBANGAN TINGKAT LANJUTAN BAGI GURU SMK- UPW, periode 30 April – 11 May 2012. Diklat yang diadakan oleh PPPPTK di Sawangan Kabupaten Bogor tersebut, adalah merupakan program rutin PPPPTK (P4TK), untuk melakukan pemutakhiran informasi  atau up-dating terhadap para guru SMK dari seluruh Indonesia.
 
Materi Kurikulum SMK Memprihatinkan
Dalam sambutannya , Ketua Umum ASTINDO menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pahlawan tanpa tanda jasa ini, yang telah mempersiapkan calon tenaga kerja untuk travel industry. Namun disisi lain, beliau juga menyampaikan keprihatinannya, karena para guru tidak difasilitasi dengan materi kurikulum yang up to date. Sehingga mereka masih mengajarkan teori-teori yang sudah usang dan tidak berlaku lagi di travel industry. Tidak heran kalau para lulusannya tidak siap kerja, karena ilmu yang dikuasai tidak bermanfaat lagi bagi industry tempat mereka bekerja. Dalam kesempat itu, sebagai ketua umum, ibu Elly Hutabarat menghimbau kepada PPPPTK  agar pada Diklat-diklat berikutnya untuk dapat memberikan materi-materi yang up to date, yang sesuai dengan kebutuhan industry.  Sehingga ilmu yang diajarkan kepada siswa-siswanya menjadi sesuatu yang berguna ketika mereka lulus dari sekolahannya.

Ada Mata Rantai Yang Putus
Memang cukup dilematis,  pelaku industry selama ini mengharapkan tenaga kerjanya diisi oleh lulusan lembaga pendidikan kejuruan yang sesuai dengan bidangnya, seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sementara para guru sekolah kejuruan tersebut, mendapat materi dan kurikulum dari salah satu Direktorat dibawah Kemetrian Pendidikan, yang nampaknya belum ada akses secara resmi dengan industrinya. Sementara ASTINDO sebagai wakil resmi industry, belum pernah diminta dan belum pernah dijadikan sumber informasi industry yang khususnya membidangi “Ticketing”, oleh institusi pendidikan kejuruannya. Oleh karena itu ASTINDO mengutus perwakilannya untuk menelusuri mata rantai yang putus tersebut, agar pendidikan anak bangsa, melalui SMK Pariwisata ini dapat menjadi akurat dan optimal.

SOTO Muncul di Ujian Akhir Nasional
Salah satu temuan ASTINDO mengenai materi yang sudah tidak berguna lagi adalah, penghitungan tariff international ticket, ditinjau dari tempat penerbitan ticketnya (place of ticket issuance)  yaitu :

SITI     = Sales In Ticketing In
SOTO     = Sales Out Ticketing Out
SITO     = Sales In Ticketing Out, dan
SOTI     = Sales Out Ticketing In

Teori tersebut masih diajarkan dan bahkan SOTO dimunculkan pada Ujian Akhir Nasional (UAN) SMK Pariwisata se Indonesia. Dimana pada praketnya, teori penerbitan ticket seperti diatas, sudah kira-kira 5 ( lima) tahun yang lalu , tidak di aplikasikan lagi di industry. Sehingga sangat percuma dan mubazir mengajarkan sesuatu teori yang tidak berguna lagi di tempat kerja. Kalaupun disampaikan, hanya sekedar untuk diketahui, bahwa teori tersebut pernah ada.    

Guru-guru Ticketing SMK Minim Pengetahuan Industry
Nampaknya para gurupun tidak dapat berbuat banyak. Mereka benar-benar seperti anak ayam yang kehilangan induk, yang hanya mengikuti apa kata mengasuhnya saja. Karena semua kurikulum sudah ditentukan dan tidak boleh dirubah. Sementara disisi lain mereka sering didiskreditkan oleh pihak industry sebagai penyerap tenaga kerja lulusannya, karena dianggap tidak bisa mengajar atau mengajarkan sesuatu yang tidak berguna lagi. Nampaknya memang para guru ticketing SMK, apalagi yang dari daerah, sangat minim pengetahuan mengenai industry. Oleh karenanya ASTINDO mengkoordinir program observasi dan penelitian terhadap pekerjaan pada travel agent dan airlines bagi para guru tersebut.

Pada kesempatan bertemu dengan Ketua Umum ASTINDO, para guru mengekspresikan kehausannya terhadap pengetahuan tentang teori-teori yang diaplikasikan pada travel industry. Banyak diantara mereka yang bertanya karena keingin tahuannya. Tetapi ada juga yang tidak bertanya, karena bingung terhadap kecanggihan dan keterkinian (up to date) yang baru ditemuinya.  Apalagi mereka berasal dari daerah dan wilayah yang tidak semaju dan se modern Jakarta. Internet saja masih menjadi barang langka didaerahnya. Sehingga bagaimana harus mengajarkan Global Distribution System (GDS) yang sudah menjadi kebutuhan mutlak bagi calon tenaga kerja di bagian ticketing pada travel agent.   

ASTINDO Peduli Pendidikan   
Dengan adanya temuan-temuan mengenai ketinggalannya lembaga pendidikan, ASTINDO bukan saja merasa terpanggil untuk melibatkan diri, namun ASTINDO merasa bertanggung jawab terhadap perkembangan pendidikan anak bangsa, khususnya pendidikan calon tenaga kerja ticketing. Langkah-langkah yang telah dilaksanakan, adalah berkoordinasi dengan institusi pendidikan yang terkait dengan penetapan materi kurikulum dan ajar mengajar. Salah satunya adalah PPPPTK lah yang sudah bereaksi dan menindak lanjuti dengan permintan materi yang harus diberikan kepada calon tenaga kerja junior ticketing pada travel agent. Ketua umum menyadari benar, bahwa kesuksesan industry , dimulai dengan memproduksi Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, yang dihasilkan oleh lembaga pendidikannya.  Oleh karena itu Elly Hutabarat dengan senang hati menjadikan Travel agent-nya Pantravel menjadi obyek observasi dan obyek penelitian bagi para guru SMK dari 17 provinsi di Indonesia. (SF 02-05/AST/2012)