Oleh : Pauline Suharno - Astindo / Oct-2012

Akhir Juni lalu kami bertiga : Ketua Umum DPN Astindo – Elly Hutabarat,  Operation Executive Astindo – Sjachrul Firdaus dan saya menghadiri FATA - Federation ASEAN Travel Agencies & ASEANTA – ASEAN Tourism Association  Board Meeting yang diselenggarakan di Pullman Lakeside, Putrajaya – Kuala Lumpur.

FATA Board Meeting dihadiri oleh asosiasi negara tetangga yakni MATTA – Malaysian Association of Tour & Travel Agents, PTAA – Phillippine Travel Agencies Association, NATAS – National Association of Travel Agents Singapore, dan ATTA – The Association of Thai Travel Agents.

Berbagai issue diperbincangkan dalam rapat yang berlangsung sehari penuh. MATTA mengemukakan antara lain IATA BSP Malaysia menerapkan sistem full bank guarantee setelah sebelumnya memberikan alternatif pembayaran dengan DIP (insurance). MATTA melalui APJC berhasil mendesak BSP Malaysia untuk menerapkan penggunaan kombinasi bank guarantee sebesar nilai 10 hari penjualan+DIP selama masa peralihan, karena BSP Malaysia mengeluarkan pengumuman penerapan full bank guarantee system dalam waktu yang sangat singkat, sehingga menyulitkan agent-agent dalam mengumpulkan aset untuk pembuatan bank guarantee.

NATAS menginisiasi travel agent untuk meminta hak komisi dari airport tax yang ditagihkan dalam tiket. Awalnya SATS (Singapore Airport Terminal Services) – pengelola Changi Airport memberikan komisi sekian cents kepada travel agent Singapore yang telah mengeluarkan tiket dengan komponen Singapore airport tax (SG). Menurut NATAS, komponen airport tax, fuel surcharge, dan tax merugikan travel agent, karena berpotensi menyebabkan kenaikan besaran bank guarantee maupun premi asuransi, padahal tidak memberikan keuntungan apapun untuk travel agent. Sementara kita tahu juga, terkadang besaran fuel surcharge bisa lebih besar dari harga dasar tiket itu sendiri. Terkait dengan issue yang dikemukakan ASTINDO mengenai Emirates yang tidak memperbolehkan agent Non IATA untuk mengakses flight availability serta membuat reservasi via GDS, PTAA sudah selangkah lebih maju dengan membuat MOU bersama Abacus, di mana agent anggota PTAA yang diakreditasi oleh Departemen Luar Negeri dan Biro Keimigrasian ini, masih tetap dapat menikmati fasilitas cek flight availability hingga pembuatan reservasi untuk Emirates.


Presiden FATA – Datuk M Khalid Harun menyarankan agar temuan permasalahan di industri termasuk di dalamnya mengenai toleransi short payment IATA serta perlindungan terhadap agent dari kebangkrutan maskapai, dilaporkan dalam rapat APJC, untuk selanjutkan diajukan dalam FATA Board Meeting dan diteruskan ke IATA Congress.  

Hot topic lainnya adalah mengenai SDM. Rasanya iri kalau melihat NATAS yang  telah mendirikan lembaga pendidikan TMIS (Tourism Management Institute of Singapore). Selain memberikan subsidi sebesar 90% kepada warga Singapore yang mengikuti pendidikan/pelatihan, Pemerintah juga mewajibkan setiap calon pekerja di bidang pariwisata harus mengikuti pelatihan berbasis kompetensi yang diadakan oleh NATAS selama 2 bulan. Setiap calon SDM ini pun selama pelatihan berhak mendapat gaji dari perusahaan yang akan mempekerjakannya.

Di Malaysia, pengelola usaha travel agent wajib mengikuti pelatihan Tour & Travel Enhancement Course @ MYR 350 kemudian dilanjutkan dengan Tour & Travel Management Course @ MYR 750, sehingga seluruh SDM pariwisata di Malaysia terdidik dengan baik dan siap memberikan pelayanan yang prima untuk para konsumen.

ATTA melaporkan kunjungan wisatawan ke Thailand meningkat dari 16,5 juta menjadi 18 juta, sementara PTAA mencatat kenaikan 14,61% di semester pertama 2012. Sayangnya ASITA (baca ASITA Pusat) tidak mengirimkan perwakilan sama sekali sehingga kami tidak mengetahui pertumbuhan pelancong yang masuk ke Indonesia. Dari financial report per 31 Mei 2012 malah tercantum ASITA (Pusat) masih memiliki tunggakan untuk iuran anggota selama 2 tahun sebesar USD 400.***