Untuk pertama kalinya tiga Asosiasi Travel Agent ditingkat Regional dan International menggelar Joint Meeting dan Workshop di Kuala Lumpur pada tanggal 07-11 Mei 2018. Hadir dalam pertemuan tersebut anggota dan perwakilan dari World Travel Agents Associations Alliance (WTAAA), European Community Travel Agents Association (ECTAA), dan Federation of ASEAN Travel Association (FATA).

Salah satu agenda workshop dengan subject THE CHALLENGES OF THE INDIRECT DISTRIBUTION IN DIFFERENT REGIONS OF THE WORLD, tiga asosiasi berbagi informasi mengenai common practice di regional masing-masing. Pada sesi pemaparan, Sekretaris Umum ASTINDO - Pauline Suharno yang juga sebagai Sek-Jen FATA yang hadir didampingi oleh Elly Hutabarat – Ketua Umum ASTINDO dan Marty Soemarjo - Ketua Bidang Ticketing International DPP ASTINDO, berkesempatan  bersama dengan President Association of Canadian Travel Agents (ACTA) – Wendy Paradis dan Ketua Bidang Ticketing ECTAA – Christine Baal memberikan presentasi tentang kondisi bisnis serta permasalahan yang dihadapi oleh para Travel Agent, khususnya ketika berhadapan dengan IATA dan Airlines, dan juga tentang  business opportunity yang bisa dimanfaatkan.

Permasalahan yang dihadapi Travel Agent di region ASEAN pada dasarnya hampir sama dengan semua region di Eropa, Amerika, Australia, dan New Zealand yang pernah mengalami  hal yang sama, namun Asosiasi mereka selangkah lebih maju dalam membela kepentingan anggotanya, karena mereka telah mempekerjakan staf khusus dengan latar belakang hukum yang full time, untuk mempelajari dampak dari IATA Reso saat diimplementasikan di negara mereka.

Pembahasan mengenai IATA matters dalam workshop tersebut menyita waktu satu hari penuh, terutama karena output dari pertemuan ini akan dijadikan acuan oleh Passenger Agency Programme Global Joint Council  (PAPGJC) yang akan digelar dua minggu kemudian di Madrid. Permasalahan utama selain PCI DSS yang sudah diberlakukan di negara-negara dimana Credit Card (CC) payment mendominasi, begitu pula dengan IATA New Gen ISS yang diberlakukan secara bergelombang mulai tahun ini. Pemberlakuan New Gen ISS akan merubah local financial criteria dan remittance holding capacity, sehingga membatasi ticket issuance dari travel agent, dengan tujuan untu kmemproteksi kepentingan Airlines. Seperti yang disampaikan oleh Pauline dalam presentasi FATA, IATA is always a voice of Airlines and never has ears for Travel Agents.

Ticketing bukan satu-satunya permasalahan yang dibahas dalam forum tersebut, workshop juga membahas mengenai bagaimana “meningkatkan fungsi dan manfaat asosiasi bagi anggota”, serta sinergi dan kerjasama antar asosiasi. Topik inbound tour juga mendapat porsi dalam joint workshop, dengan agenda THE REVERSE SIDE OF SUCCESS – OVER CROWDING IN DESTINATIONS, Nikki White – Ketua ECTAA Bidang Destinasi & Inbound, Marlene Jane – President Phillipine Travel Agents Association (PTAA), Marios Kammenos – Hellenic Association of Travel & Tourist Agencies (HATTA) – Asosiasi Travel Agent Yunani, berbagi informasi tentang dampak dari suksesnya memasarkan destinasi wisata yang berujung pada over capacity, seperti Venice, Santorini, dan Boracay. Marlene Jante mengungkapkan upaya PTAA untuk membantu travel agent dan pekerjanya survive selama Boracay ditutup 6 bulan efektif 26 Apr 2018 untuk peremajaan lingkungan.

Brick and Mortar : Travel Agent akan tetap dicari dan dibutuhkan konsumen, jika mampu bertindak bukan hanya sebagai penjual tiket saja namun juga pemberi jasa pelayanan perjalanan secara menyeluruh, yang tidak dapat diberikan oleh online travel agents maupun airlines. Perubahan model bisnis membuat Travel Agent harus kreatif agar tetap bisa bertahan menjalankan usahanya.

 

 

PS 05/2018